Jiwa yang Hancur
Hati yang begitu penuh pecahan kaca yang berserakan, seakan-akan lelah untuk membersihkannya. Diriku seperti tidak bernyawa untuk memperlihatkan betapa kecewanya perasaanku ini, aku telah jatuh untuk sekian kalinya.
Hati ini jatuh ke jurang yang amat sangat dalam, seakan begitu rendahnya diriku ini, diriku yang tidak ternilai olehnya, mulut yang begitu kejam, seperti silet yang menggoreskan kulitku ini.
Waktu telah menggubah segalanya, betapa senangnya diriku ketika bisa kenal dengan sesosok dirinya, diriku seperti terbang jauh menebus awan.
Terlihat begitu bahagianya diriku menjalankan hidup jika dengannya, canda tawa yang sering kita lakukan ketika bersamaa, terasa nyaman diriku ketkia berdua dengannya. Jantung yang bedegup dengan kencang, mata yg begitu terlihat bercahaya ketika dihadapannya, terasa hati yang sedang layu telah disiram air yang begitu segar.
Rayuan-rayuan yang keluar dari mulutnya yang sangat manis, membuat diriku jatuh cinta. Seakan diriku diperlakukan seperti wanita yang begitu sempurna, senangnya diriku setiap tangannya menyentuh dan mengelus helaian rabutku.
Rasa-rasanya hati ingin sekali selalu berada didekapnya, selalu ingin mengadu dikala senang dan sedih, sungguh bahagianya diriku saaat itu.
Tetapi kesenagan yang selalu membuat ku bahagia, seketika hancur berkeping-keping, harapan-harapan yang telah diriku genggam hilang sekejap didepan mata, terlihat begitu bodohnya diriku. Diriku yang sangat percaya diri bahwa dia menyayangiku ternyata semua hanya kesalahpahaman belaka.
Betapa kejamnya bibir yang dulu terlihat manis itu sekarang bagaikan pisau tajam yang sedang menggores-gores teliga untuk mendengarkan apa yang dia ucapkan dari mulutnya.
Terasa ada hujan badai di dalam hatiku ini, seperti ada angin topan yang menghancurkan bagian dari tubuhku. Jiwa yang tak lagi sanggup menahan sesak batin yang begitu rapuh.
Hati ini patah, remuk seperti dedaunan yang telah di injak-injak. Hidup bagaikan tak berarti, hanya hening yang ada di pikiran ku. Jiwa ku telah hancur menguras hati, mungkin aku hanya terlalu berfikir bahagia itu hanya sementara, sebab tidak ada bahagia yang datang kepada diriku, hanya rasa sakit yang selalu muncul setiap helaian hapas.
Hati yang begitu penuh pecahan kaca yang berserakan, seakan-akan lelah untuk membersihkannya. Diriku seperti tidak bernyawa untuk memperlihatkan betapa kecewanya perasaanku ini, aku telah jatuh untuk sekian kalinya.
Hati ini jatuh ke jurang yang amat sangat dalam, seakan begitu rendahnya diriku ini, diriku yang tidak ternilai olehnya, mulut yang begitu kejam, seperti silet yang menggoreskan kulitku ini.
Waktu telah menggubah segalanya, betapa senangnya diriku ketika bisa kenal dengan sesosok dirinya, diriku seperti terbang jauh menebus awan.
Terlihat begitu bahagianya diriku menjalankan hidup jika dengannya, canda tawa yang sering kita lakukan ketika bersamaa, terasa nyaman diriku ketkia berdua dengannya. Jantung yang bedegup dengan kencang, mata yg begitu terlihat bercahaya ketika dihadapannya, terasa hati yang sedang layu telah disiram air yang begitu segar.
Rayuan-rayuan yang keluar dari mulutnya yang sangat manis, membuat diriku jatuh cinta. Seakan diriku diperlakukan seperti wanita yang begitu sempurna, senangnya diriku setiap tangannya menyentuh dan mengelus helaian rabutku.
Rasa-rasanya hati ingin sekali selalu berada didekapnya, selalu ingin mengadu dikala senang dan sedih, sungguh bahagianya diriku saaat itu.
Tetapi kesenagan yang selalu membuat ku bahagia, seketika hancur berkeping-keping, harapan-harapan yang telah diriku genggam hilang sekejap didepan mata, terlihat begitu bodohnya diriku. Diriku yang sangat percaya diri bahwa dia menyayangiku ternyata semua hanya kesalahpahaman belaka.
Betapa kejamnya bibir yang dulu terlihat manis itu sekarang bagaikan pisau tajam yang sedang menggores-gores teliga untuk mendengarkan apa yang dia ucapkan dari mulutnya.
Terasa ada hujan badai di dalam hatiku ini, seperti ada angin topan yang menghancurkan bagian dari tubuhku. Jiwa yang tak lagi sanggup menahan sesak batin yang begitu rapuh.
Hati ini patah, remuk seperti dedaunan yang telah di injak-injak. Hidup bagaikan tak berarti, hanya hening yang ada di pikiran ku. Jiwa ku telah hancur menguras hati, mungkin aku hanya terlalu berfikir bahagia itu hanya sementara, sebab tidak ada bahagia yang datang kepada diriku, hanya rasa sakit yang selalu muncul setiap helaian hapas.
Comments
Post a Comment